Penentuan Lokasi Usaha dengan Metode Factor Rating dalam Agribisnis
Dalam agribisnis, lokasi usaha menjadi hal yang sangat krusial dalam usaha karena erat kaitannya dengan kelangsungan hidup usaha.
Seringkali seorang wirausahawan dihadapkan pada beberapa alternatif lokasi yang dianggap strategis untuk dipilih sebagai lokasi usaha.
Untuk mengatasi hal tersebut, dalam menentukan lokasi usaha dapat digunakan berbagai metode dan cara mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks.
Salah satu metode yang tergolong sederhana untuk dilakukan dalam menentukan lokasi usaha adalah metode pembobotan faktor atau factor rating.
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara menentukan lokasi usaha dalam agribisnis dengan metode factor rating.
Pengertian Factor Rating
Metode factor rating atau pembobotan faktor adalah metode menentukan lokasi usaha berdasarkan faktor-faktor yang telah ditetapkan dan diberi bobot nilai.
Faktor-faktor yang dipilih dalam metode ini adalah faktor yang dianggap memiliki pengaruh dalam menjalankan aktivitas usaha.
Pemilihan faktor tersebut didasarkan pada berbagai pertimbangan yang dalam sehingga faktor yang dipilih adalah yang benar-benar memengaruhi aktivitas usaha.
Sebagai contoh beberapa faktor yang digunakan dalam factor rating antara lain jarak lokasi dari pusat kota, jarak dari supplier, pemasaran, biaya sewa, tenaga kerja, hingga bencana alam.
Tahap-Tahap Menentukan Lokasi Usaha dengan Metode Factor Rating
Untuk menentukan alternatif lokasi sebuah usaha yang baik dengan metode factor rating, terdapat tahapan-tahapan sebagai berikut:
Menentukan Faktor-Faktor yang Dapat Memengaruhi Aktivitas Usaha
Faktor-faktor yang dipilih dalam metode factor rating adalah faktor yang dianggap memiliki pengaruh dalam aktivitas usaha.
Faktor-faktor tersebut dapat merujuk pada pendapat praktisi dan akademisi, hasil penelitian, dan sebagainya.
Melakukan Pembobotan terhadap Faktor-Faktor yang Telah Ditentukan
Setelah faktor-faktor yang dianggap memengaruhi aktivitas usaha ditentukan, tahap selanjutnya adalah memberikan bobot terhadap masing-masing faktor.
Tujuannya adalah untuk melihat dan mengurutkan faktor yang paling berdampak dalam aktivitas usaha.
Pembobotan faktor-faktor tersebut dapat dilakukan dalam satuan persen sehingga semua bobot faktor ditotalkan akan mencapai 100%.
Menentukan Skala Penilaian dari Semua Faktor
Setelah pemberian bobot terhadap setiap faktor yang memengaruhi aktivitas usaha dilakukan, selanjutnya adalah menentukan skala penilaiannya,
Skala ini dapat bervariasi tergantung kebutuhan, dan pada umumnya skala yang digunakan adalah 1 sampai 100.
Memberikan Nilai terhadap Semua Faktor pada Setiap Alternatif Lokasi
Nilai yang diberikan pada masing-masing alternatif lokasi di setiap faktor harus memiliki dasar dan pertimbangan.
Sebagai contoh, untuk faktor tenaga kerja, jumlah penduduk usia produktif pada masing-masing alternatif lokasi dapat menjadi bahan pertimbangan.
Atau pada contoh lain, misalnya faktor ketersediaan bahan baku, jarak alternatif lokasi dengan supplier dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan.
Akumulasi Nilai Setiap Alternatif Lokasi
Setelah nilai pada masing-masing alternatif lokasi usaha diberikan, selanjutnya dilakukan akumulasi nilai.
Cara mengakumulasi nilai tersebut adalah dengan mengalikan setiap nilai yang diberikan pada setiap alternatif lokasi dengan bobot faktor dan dijumlahkan.
Mengurutkan dan Menentukan Alternatif Lokasi Usaha Terbaik
Nilai-nilai masing-masing alternatif lokasi usaha yang telah terakumulasi selanjutnya diurutkan mulai dari yang paling tinggi hingga yang terendah.
Alternatif lokasi usaha yang dianggap paling baik untuk dijadikan sebagai lokasi usaha ditentukan berdasarkan nilai yang paling tinggi diantara alternatif lokasi lainnya.
Contoh Kasus Penentuan Lokasi Usaha dengan Metode Factor Rating
Dalam contoh kasus ini kita akan menentukan lokasi usaha sari buah nanas menggunakan metode factor rating. Terdapat tiga alternatif lokasi yang dipilih yaitu lokasi A, B, dan C.
Adapun faktor-faktor yang dipilih sebagai faktor-faktor yang memengaruhi aktivitas usaha sari buah nanas meliputi:
- Ketersediaan Bahan Baku
- Pemasaran
- Tenaga Kerja
- Bencana Alam
- Jumlah Usaha Sejenis
- Biaya Sewa
Menentukan Bobot dari Masing-Masing Faktor
Setelah menentukan faktor-faktor yang memengaruhi aktivitas usaha sari buah nanas sebanyak enam faktor, selanjutnya ditentukan bobot dari masing-masing faktor tersebut dalam satuan persen dimana total bobot dari keseluruhan faktor maksimal adalah 100% seperti berikut:
Faktor |
Bobot
(%) |
Ketersediaan
Bahan Baku |
20% |
Pemasaran |
25% |
Tenaga
Kerja |
15% |
Bencana
Alam |
10% |
Jumlah
Usaha Sejenis |
20% |
Biaya
Sewa |
10% |
Menilai Alternatif Lokasi Berdasarkan Faktor-Faktor
Setelah masing-masing faktor diberikan bobot, selanjutnya masing-masing alternatif lokasi diberikan nilai pada setiap faktor seperti berikut:
Faktor |
Nilai Alternatif Lokasi |
||
A |
B |
C |
|
Ketersediaan Bahan Baku |
80 |
80 |
80 |
Pemasaran |
90 |
80 |
75 |
Tenaga Kerja |
90 |
80 |
75 |
Bencana Alam |
80 |
95 |
75 |
Jumlah Usaha Sejenis |
85 |
80 |
90 |
Biaya Sewa |
85 |
80 |
95 |
1. Ketersediaan Bahan Baku
Faktor ketersediaan bahan baku dalam contoh kasus ini dipilih berdasarkan letak sumber bahan baku utama dalam pembuatan sari buah nanas yaitu buah nanas.
Dalam contoh kasus ini, ketiga alternatif lokasi usaha sari buah nanas bukan merupakan daerah sentra produksi atau penghasil buah nanas sebagai bahan baku sari buah.
Atas dasar hal tersebut ketiga alternatif lokasi usaha diberikan nilai yang sama pada faktor ketersediaan bahan baku.
2. Pemasaran
Faktor pemasaran dilihat dari kemudahan dalam melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi produk sari buah nanas kepada konsumen serta jumlah penduduk di masing-masing alternatif lokasi.
Masing-masing lokasi memiliki prasarana transportasi darat serta jalan dengan jenis aspal/beton. Namun demikian, dari segi jumlah penduduk terdapat perbedaan yang signifikan antara ketiga alternatif lokasi usaha tersebut.
Jumlah penduduk dari ketiga alternatif lokasi usaha sari buah nanas dapat dilihat pada tabel berikut:
Jumlah Penduduk |
Alternatif Lokasi |
||
A |
B |
C |
|
15.499 |
7.885 |
3.409 |
Data pada tabel menunjukkan bahwa A memiliki jumlah penduduk usia paling banyak daripada alternatif lokasi lainnya. B memiliki jumlah penduduk paling banyak sesudah alternatif lokasi A, sedangkan alternatif lokasi C memiliki jumlah penduduk usia produktif paling sedikit diantara alternatif lokasi yang ditentukan.
Semakin banyak jumlah penduduk maka semakin banyak potensi calon konsumen sari buah nanas.
Atas dasar hal tersebut untuk faktor pemasaran skor tertinggi diberikan kepada alternatif lokasi A dikarenakan memiliki jumlah penduduk paling banyak sehingga dapat memiliki potensi yang paling besar untuk memasarkan produk sari buah nanas.
3. Tenaga Kerja
Faktor tenaga kerja dalam contoh kasus ini dilihat berdasarkan jumlah penduduk umur produktif pada masing-masing alternatif lokasi.
Banyaknya jumlah penduduk dengan usia produktif menjadi potensi sumberdaya manusia untuk tenaga kerja dalam melakukan aktivitas usaha.
Umur produktif menurut Badan Pusat Statistik ialah penduduk dengan usia 15 sampai 64 tahun. Jumlah penduduk menurut masing-masing alternatif lokas berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel berikut:
Umur
(Tahun) |
Alternatif
Lokasi |
||
A |
B |
C |
|
15 – 19 |
1.352 |
609 |
293 |
20 – 24 |
1.376 |
741 |
336 |
25 – 29 |
1.154 |
619 |
260 |
30 – 34 |
1.037 |
505 |
188 |
35 – 39 |
1.135 |
514 |
232 |
40 – 44 |
1.160 |
567 |
273 |
45 – 49 |
961 |
536 |
244 |
50 – 54 |
888 |
477 |
176 |
55 – 59 |
724 |
458 |
105 |
60 – 64 |
621 |
369 |
104 |
Total |
10.408 |
5.395 |
2.211 |
Data pada tabel menunjukkan bahwa alternatif lokasi A memiliki jumlah penduduk usia produktif paling banyak daripada alternatif lokasi lainnya.
Alternatif lokasi B memiliki jumlah penduduk usia produktif paling banyak sesudah alternatif lokasi A, sedangkan alternatif lokasi C memiliki jumlah penduduk usia produktif paling sedikit diantara alternatif lokasi yang ditentukan.
Atas dasar hal tersebut untuk faktor tenaga kerja skor tertinggi diberikan kepada alternatif lokasi A dikarenakan memiliki penduduk usia produktif terbanyak dibandingkan dengan alternatif lokasi yang ada.
4. Bencana Alam
Faktor bencana alam dalam pemilihan lokasi usaha sari buah nanas dilihat berdasarkan banyaknya jumlah bencana alam yang terjadi di lokasi alternatif.
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, alternatif lokasi A mengalami bencana banjir sebanyak tiga kali dan longsor dua kali, alternatif lokasi B mengalami banjir satu kali dan tidak mengalami longsor, alternatif lokasi C mengalami banjir sebanyak tujuh kali dan longsor dua kali.
Berdasarkan data tersebut untuk faktor bencana alam skor tertinggi diberikan kepada alternatif lokasi B.
5. Jumlah Usaha Sejenis
Faktor usaha sejenis dilihat dari jumlah usaha sejenis yang berada di masing-masing alternatif lokasi usaha sari buah nanas.
Pada ketiga alternatif lokasi untuk usaha sari buah nanas, tidak ditemukan usaha yang menjual produk serupa yaitu sari buah nanas.
Namun demikian, di masing-masing alternatif lokasi usaha tersebut terdapat usaha sejenis yaitu jus buah.
Berdasarkan hasil observasi, jumlah usaha sejenis tersebut paling banyak ditemukan di B, kemudian di A, dan paling sedikit ditemukan di C.
Atas dasar hal tersebut untuk faktor jumlah usaha sejenis skor tertinggi diberikan kepada lokasi C dengan jumlah usaha sejenis yang paling sedikit dari alternatif lokasi lainnya.
6. Biaya Sewa
Faktor biaya sewa dilihat dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menyewa lokasi usaha sari buah nanas. Kriteria lokasi usaha yang ditentukan adalah lokasi yang dekat dengan jalan raya.
Dalam contoh kasus ini, berdasarkan hasil observasi, alternatif lokasi C memiliki biaya sewa yang paling rendah dibandingkan alternatif lokasi lainnya sedangkan alternatif lokasi A memiliki biaya sewa yang lebih rendah dari alternatif lokasi B.
Setelah dilakukan penilaian setiap faktor pada masing-masing alternatif lokasi, diperoleh jumlah nilai hasil perkalian antara bobot faktor dengan nilai yang diberikan pada masing-masing alternatif lokasi. Hasil penjumlahan nilai alternatif lokasi usaha dapat dilihat pada tabel berikut:
Faktor |
Nilai Alternatif Lokasi |
||
A |
B |
C |
|
Ketersediaan Bahan Baku |
16 |
16 |
16 |
Pemasaran |
22,5 |
20 |
18,75 |
Tenaga Kerja |
13,5 |
12 |
11,25 |
Bencana Alam |
8 |
9,5 |
7,5 |
Jumlah Usaha Sejenis |
17 |
16 |
18 |
Biaya Sewa |
8,5 |
8 |
9,5 |
Total |
85,5 |
81,5 |
81 |
Hasil penjumlahan nilai setiap faktor pada masing-masing alternatif lokasi usaha sari buah nanas pada tabel menunjukkan nilai tertinggi diperoleh alternatif lokasi A sebesar 85,5.
Kesimpulan
Factor rating atau pembobotan faktor adalah salah satu metode yang dapat digunakan dalam penentuans lokasi usaha baik usaha produk maupun jasa.
Metode ini dilakukan dengan cara memberikan bobot atau nilai pada setiap faktor yang dianggap berpengaruh dalam aktivitas usaha.
Pemilihan faktor tersebut didasari oleh berbagai hal dan pertimbangan sehingga faktor yang digunakan memang benar-benar menyangkut kelangsungan hidup usaha.
Saran
Dalam penentuan lokasi usaha menggunakan metode factor rating, tahap pemilihan faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas usaha dan penentuan bobot menjadi yang paling penting.
Oleh karenanya pemilihan faktor harus didasari oleh pertimbangan dan rujukan yang dapat diandalkan seperti dari praktisi dan akademisi, hasil penelitian, dan lain sebagainya.
Selain itu, pemberian nilai pada masing-masing faktor terhadap setiap alternatif lokasi juga harus memiliki dasar referensi dan literatur yang mendukung.
Post a Comment